Hadits Pertama:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللََِّّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللََّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأنََّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أنََا وَالسَّاعَةُ كَهَاتيَْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَع يْهِ الس بَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللََِّّ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتهَُا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَة
Dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata, “Ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, marahnya kuat, seakan-akan ia seorang pemberi peringatan pada pasukan perang, Rasulullah Saw bersabda, “Dia yang telah menjadikan kamu hidup di waktu pagi dan petang”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Aku diutus, hari kiamat seperti ini”. Rasulullah Saw mendekatkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian Rasulullah Saw berkata lagi, “Amma ba’du (adapun setelah itu), sesungguhnya sebaik-baik cerita adalah kitab Allah (al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat. Dan tiap-tiap perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat)”. (HR. Muslim).
Hadits Kedua:
عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُون وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَ دعٍ فَمَاذَا تعَْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللََّّ قَالَ أُوصِيكُمْ ب تَقْوَى اللََِّّوَالسَّمْاوَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ الْأُمُورِ فَإِن هَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَعَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِي ينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Dari al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Rasulullah Saw suatu hari memberikan nasihat kepada kami setelah shalat Shubuh, nasihat yang sangat menyentuh, membuat air mata menetes dan hati bergetar. Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya ini nasihat orang yang akan pergi jauh, apa yang engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw menjawab, “Aku wasiatkan kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetap mendengar dan patuh, meskipun kamu dipimpin seorang hamba sahaya berkulit hitam. Sesungguhnya orang yang hidup dari kamu akan melihat banyak pertikaian. Jauhilah perkara yang dibuat-buat, sesungguhnya perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat). Siapa yang mendapati itu dari kalian, maka hendaklah ia berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat hidayah. Gigitlah dengan gigi geraham”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Pendapat Imam asy-Syathibi:
طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه
Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah Swt.
Definisi lain,
Definisi lain,
البدعة طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية
Bid’ah adalah suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya seperti tujuan melakukan cara dalam syariat Islam55.
Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:
Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:
البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw.
Pendapat Imam an-Nawawi:
Pendapat Imam an-Nawawi:
قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق
Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang dilakukan, tidak pernah ada contoh sebelumnya.
Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما
Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, apakah itu terpuji ataupun tercela.
Seperti yang disebutkan para ulama di atas, semua sepakat bahwa Bid’ah adalah apa saja yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. Jika demikian maka mobil adalah bid’ah, maka kita mesti naik onta. Tentu orang yang tidak setuju akan mengatakan, “Mobil itu bukan ibadah, yang dimaksud Bid’ah itu adalah masalah ibadah”. Dengan memberikan jawaban itu, sebenarnya ia sedang membagi bid’ah kepada dua: bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah. Bid’ah urusan dunia, boleh. Bid’ah dalam ibadah, tidak boleh.
Kalau bid’ah bisa dibagi menjadi dua; bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah,
mengapa bid’ah tidak bisa dibagi kepada bid’ah terpuji dan bid’ah tercela?!
Oleh sebab itu para ulama membagi bid’ah kepada dua, bahkan ada yang membaginya menjadi lima. Berikut pendapat para ulama, sebagiannya berasal dari kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah):
Pembagian Bid’ah Menurut Imam Syafi’i (150 – 204H):
Kalau bid’ah bisa dibagi menjadi dua; bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah,
mengapa bid’ah tidak bisa dibagi kepada bid’ah terpuji dan bid’ah tercela?!
Oleh sebab itu para ulama membagi bid’ah kepada dua, bahkan ada yang membaginya menjadi lima. Berikut pendapat para ulama, sebagiannya berasal dari kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah):
Pembagian Bid’ah Menurut Imam Syafi’i (150 – 204H):
قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالعها فهو مذموم
Imam Syafi’i berkata,
“Bid’ah itu terbagi dua: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).
Jika sesuai dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Mahmudah.
Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Madzmumah
Disebutkan oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur riwayat Ibrahim bin al-Junaid dari Imam Syafi’i.
Kretria Pembagian Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).
Menurut Imam Syafi’i:
“Bid’ah itu terbagi dua: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).
Jika sesuai dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Mahmudah.
Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Madzmumah
Disebutkan oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur riwayat Ibrahim bin al-Junaid dari Imam Syafi’i.
Kretria Pembagian Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).
Menurut Imam Syafi’i:
وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة
Juga dari Imam Syafi’i, diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Imam Syafi’i, “Bid’ah itu terbagi dua:
Perkara yang dibuat-buat, bertentangan dengan al-Qur’an, atau Sunnah, atau Atsar, atau Ijma’, maka itu Bid’ah Dhalal (bid’ah sesat)
Perkara yang dibuat-buat, dari kebaikan, tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar dan Ijma’, maka itu Bid’ah Ghair Madzmumah (bid’ah tidak tercela).
Kretria Pembagian Bid’ah Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebut dua kali dengan dua istilah berbeda:
Pertama: Bid’ah Hasanah – Bid’ah Mustaqbahah – Bid’ah Mubah.
Perkara yang dibuat-buat, bertentangan dengan al-Qur’an, atau Sunnah, atau Atsar, atau Ijma’, maka itu Bid’ah Dhalal (bid’ah sesat)
Perkara yang dibuat-buat, dari kebaikan, tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar dan Ijma’, maka itu Bid’ah Ghair Madzmumah (bid’ah tidak tercela).
Kretria Pembagian Bid’ah Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebut dua kali dengan dua istilah berbeda:
Pertama: Bid’ah Hasanah – Bid’ah Mustaqbahah – Bid’ah Mubah.
والتحقيق أنها أن كانت مما تندر تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندر تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح
Berdasarkan penelitian, jika bid’ah itu tergolong dalam perkara yang dianggap baik menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Hasanah.
Jika tergolong dalam sesuatu yang dianggap buruk menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Mustaqbahah (bid’ah buruk).
Jika tidak termasuk dalam kedua kelompok ini, maka termasuk Mubah.
Kedua, Bid’ah Hasanah – Bid’ah Dhalalah – Bid’ah Mubah.
Jika tergolong dalam sesuatu yang dianggap buruk menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Mustaqbahah (bid’ah buruk).
Jika tidak termasuk dalam kedua kelompok ini, maka termasuk Mubah.
Kedua, Bid’ah Hasanah – Bid’ah Dhalalah – Bid’ah Mubah.
فما وافق السنة فحسن
وما خالف فضلالة
وهو المراد حيث وقا ذم البدعة
وما لم يوافق ولم يخالف فعلى أصل الإباحة
وما خالف فضلالة
وهو المراد حيث وقا ذم البدعة
وما لم يوافق ولم يخالف فعلى أصل الإباحة
Jika perbuata itu sesuai dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Hasanah.
Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Dhalalah.
Itulah yang dimaksudkan.
Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Dhalalah.
Itulah yang dimaksudkan.
Oleh sebab itu bid’ah dikecam.
Jika tidak sesuai dengan Sunnah dan tidak pula bertentangan dengan Sunnah,
maka hukum asalnya adalah Mubah63.
Dasar Pembagian Bid’ah Menurut Imam an-Nawawi:
Hadits yang berbunyi,
Jika tidak sesuai dengan Sunnah dan tidak pula bertentangan dengan Sunnah,
maka hukum asalnya adalah Mubah63.
Dasar Pembagian Bid’ah Menurut Imam an-Nawawi:
Hadits yang berbunyi,
كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Semua perkara yang dibuat-buat itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”.
Hadits ini bersifat umum. Dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:
Hadits ini bersifat umum. Dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:
من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها
“Siapa yang membuat tradisi yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan balasan pahalanya”.
Yang dimaksud dengan bid’ah dhalalah dalam hadit pertama adalah:
Yang dimaksud dengan bid’ah dhalalah dalam hadit pertama adalah:
المحدثات الباطلة والبدع المذمومة
Perkara diada-adakan yang batil dan perkara dibuat-buat yang tercela.
Sedangkan bid’ah itu sendiri dibagi lima: bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh dan bid’ah mubah.
Teks lengkapnya:
Sedangkan bid’ah itu sendiri dibagi lima: bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh dan bid’ah mubah.
Teks lengkapnya:
) من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ( إلى آخرهوفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلةوالبدع المذمومة وقد سبق بي ان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدعخمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة .
Tapi ada hadits menyebut, “Semua bid’ah itu sesat”, apa maksudnya?
Imam an-Nawawi menjawab,
Imam an-Nawawi menjawab,
قوله صلى الله عليه و سلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع
Sabda Rasulullah Saw, “Semua bid’ah itu sesat”, ini kalimat yang bersifat umum, tapi dikhususkan. Maka maknanya, “Pada umumnya bid’ah itu sesat”.
Bid’ah Dibagi Lima:
Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:
Bid’ah Dibagi Lima:
Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:
البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهي منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة، والطريق في معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة، وللبدع الواجبة أمثلة. أحدها: الاشتغال بعلم النحو الذي يعهم به كلام الله وكلام سوله صلى الله عليه وسلم، وذلك واجب لأن حعظ الشريعة واجب ولا يتأتى حعظها إلا بمعرفة ذلك، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. المثال الثاني: حعظ غريب الكتاب والسنة من اللغة. المثال الثالث: تدوين أصول العقه. المثال الرابا: الكلام في الجرح والتعديل لتمييز الصحيح من السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حعظ الشريعة فرض كعاية فيما زاد على القدر المتعين، ولا يتأتى حعظ الشريعة إلا بما ذكرناه. وللبدع المحرمة أمثلة. منها: مذهب القدرية، ومنها مذهب الجبرية، ومنها مذهب المرجئة، ومنها مذهب المجسمة، والرد على هيلاء من البدع الواجبة. وللبدع المندوبة أمثلة. منها: إحداث الربط والمدارس وبناء القناطر، ومنها كل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها: صلاة التراويح، ومنها الكلام في دقائق التصوف، ومنها الكلام في الجدل في جما المحافل للاستدلال على المسائل إذا قصد بذلك وجه الله سبحانه. وللبدع المكروهة أمثلة. منها: زخرفة المساجد، ومنها تزويق المصاحف، وأما تلحين القرآن بحيث تتغير ألعاظه عن الوضا العربي، فالأصح أنه من البدع المحرمة. والبدع المباحة أمثلة. منها: المصافحة عقيب الصبح والعصر، ومنها التوسا في اللذيذ من المآكل والمشارب والملابس والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيا الأكمام. وقد يختلف في بعض ذلك، فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعل آخرون من السنن المععولة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة والبسملة.
Bid’ah adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw.
Bid’ah terbagi kepada: wajib, haram, mandub (anjuran), makruh dan mubah.
Cara untuk mengetahuinya, bid’ah tersebut ditimbang dengan kaedah-kaedah syariat Islam. Jika bid’ah tersebut masuk dalam kaedah wajib, maka itu adalah bid’ah wajib.
Jika masuk dalam kaedah haram, maka itu bid’ah haram.
Jika masuk dalam kaedah mandub, maka itu bid’ah mandub.
Jika masuk dalam kedah makruh, maka itu bid’ah makruh.
Jika masuk dalam kaedah mubah, maka itu bid’ah mubah.
Contoh bid’ah wajib: pertama, sibuk mempelajari ilmu Nahwu (gramatikal bahasa Arab) untuk memahami al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw. Itu wajib karena untuk menjaga syariat itu wajib. Syariat tidak mungkin dapat dijaga kecuali dengan mengetahui bahasa Arab. Jika sesuatu tidak sempurna karena ia, maka ia pun ikut menjadi wajib. Contoh kedua, menghafal gharib (kata-kata asing) dalam al-Qur’an dan Sunnah. Contoh ketiga, menyusun ilmu Ushul Fiqh. Contoh keempat, pembahasan al-Jarh wa at-Ta’dil untuk membedakan shahih dan saqim.
Bid’ah terbagi kepada: wajib, haram, mandub (anjuran), makruh dan mubah.
Cara untuk mengetahuinya, bid’ah tersebut ditimbang dengan kaedah-kaedah syariat Islam. Jika bid’ah tersebut masuk dalam kaedah wajib, maka itu adalah bid’ah wajib.
Jika masuk dalam kaedah haram, maka itu bid’ah haram.
Jika masuk dalam kaedah mandub, maka itu bid’ah mandub.
Jika masuk dalam kedah makruh, maka itu bid’ah makruh.
Jika masuk dalam kaedah mubah, maka itu bid’ah mubah.
Contoh bid’ah wajib: pertama, sibuk mempelajari ilmu Nahwu (gramatikal bahasa Arab) untuk memahami al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw. Itu wajib karena untuk menjaga syariat itu wajib. Syariat tidak mungkin dapat dijaga kecuali dengan mengetahui bahasa Arab. Jika sesuatu tidak sempurna karena ia, maka ia pun ikut menjadi wajib. Contoh kedua, menghafal gharib (kata-kata asing) dalam al-Qur’an dan Sunnah. Contoh ketiga, menyusun ilmu Ushul Fiqh. Contoh keempat, pembahasan al-Jarh wa at-Ta’dil untuk membedakan shahih dan saqim.
(mengandung penyakit). Kaedah-kaedah syariat Islam menunjukkan bahwa menjaga syariat Islam itu fardhu kifayah pada sesuatu yang lebih dari kadar yang tertentu. Penjagaan syariat Islam tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga perkara-perkara di atas.
Contoh bid’ah haram: mazhab Qadariyyah (tidak percaya kepada takdir), mazhab Jabariyyah (berserah kepada takdir), mazhab Mujassimah (menyamakan Allah dengan makhluk). Menolak mereka termasuk perkara wajib.
Contoh bid’ah mandub (anjuran): membangun prasarana jihad, membangun sekolah dan jembatan. Semua perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa generasi awal Islam. Diantaranya: shalat Tarawih, pembahasan mendetail tentang Tashawuf. Pembahasan ilmu debat dalam semua aspek untuk mencari dalil dalam masalah-masalah yang tujuannya untuk mencari ridha Allah Swt.
Contoh bid’ah makruh: hiasan pada masjid-masjid. Hiasan pada mush-haf al-Qur’an. Adapun melantunkan al-Qur’an sehingga lafaznya berubah dari kaedah bahasa Arab, maka itu tergolong bid’ah haram.
Contoh bid’ah mubah: bersalaman setelah selesai shalat Shubuh dan ‘Ashar. Menikmati yang nikmat-nikmat; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai jubah pakaian kebesaran dan melebarkan lengan baju. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian ulama menjadikan ini tergolong bid’ah makruh, sebagian lain menjadikannya tergolong ke dalam perbuatan yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw dan masa setelahnya, sama seperti isti’adzah (mengucapkan a’udzubillah) dan basmalah (mengucapkan bismillah) dalam shalat66.
Imam an-Nawawi Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:
Contoh bid’ah haram: mazhab Qadariyyah (tidak percaya kepada takdir), mazhab Jabariyyah (berserah kepada takdir), mazhab Mujassimah (menyamakan Allah dengan makhluk). Menolak mereka termasuk perkara wajib.
Contoh bid’ah mandub (anjuran): membangun prasarana jihad, membangun sekolah dan jembatan. Semua perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa generasi awal Islam. Diantaranya: shalat Tarawih, pembahasan mendetail tentang Tashawuf. Pembahasan ilmu debat dalam semua aspek untuk mencari dalil dalam masalah-masalah yang tujuannya untuk mencari ridha Allah Swt.
Contoh bid’ah makruh: hiasan pada masjid-masjid. Hiasan pada mush-haf al-Qur’an. Adapun melantunkan al-Qur’an sehingga lafaznya berubah dari kaedah bahasa Arab, maka itu tergolong bid’ah haram.
Contoh bid’ah mubah: bersalaman setelah selesai shalat Shubuh dan ‘Ashar. Menikmati yang nikmat-nikmat; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai jubah pakaian kebesaran dan melebarkan lengan baju. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian ulama menjadikan ini tergolong bid’ah makruh, sebagian lain menjadikannya tergolong ke dalam perbuatan yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw dan masa setelahnya, sama seperti isti’adzah (mengucapkan a’udzubillah) dan basmalah (mengucapkan bismillah) dalam shalat66.
Imam an-Nawawi Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:
قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك والحرام والمكروه ظاهران
Para ulama berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi lima: wajib, mandub, haram, makruh dan mubah.
Contoh bid’ah wajib: menyusun dalil-dalil ulama ahli Kalam untuk menolak orang-orang atheis, pelaku bid’ah dan sejenisnya.
Contoh bid’ah mandub: menyusun kitab-kitab ilmu, membangun sekolah-sekolah, prasarana jihad dan sebagainya.
Contoh bid’ah mubah: menikmati berbagai jenis makanan dan lainnya. Sedangkan contoh bid’ah haram dan makruh sudah jelas.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:
Contoh bid’ah wajib: menyusun dalil-dalil ulama ahli Kalam untuk menolak orang-orang atheis, pelaku bid’ah dan sejenisnya.
Contoh bid’ah mandub: menyusun kitab-kitab ilmu, membangun sekolah-sekolah, prasarana jihad dan sebagainya.
Contoh bid’ah mubah: menikmati berbagai jenis makanan dan lainnya. Sedangkan contoh bid’ah haram dan makruh sudah jelas.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:
وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة
Bid’ah terkadang terbagi ke dalam hukum yang lima (wajib, mandub, haram, makruh dan mubah).
Jika Tidak Dilakukan Nabi, Maka Haram. Benarkah?
Yang selalu dijadikan dalil mendukung argumen ini adalah kaedah:
Jika Tidak Dilakukan Nabi, Maka Haram. Benarkah?
Yang selalu dijadikan dalil mendukung argumen ini adalah kaedah:
الترك يقتضي التحريم
“Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw, berarti mengandung makna haram”.
Tidak ada satu pun kitab Ushul Fiqh maupun kitab Fiqh memuat kaedah seperti ini. Kaedah ini hanya buatan sebagian orang saja.
Untuk menguji kekuatan kaedah ini, mari kita lihat beberapa contoh dari hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan suatu perbuatan, namun tidak selamanya karena perbuatan itu haram, tapi karena beberapa sebab:
Pertama, karena kebiasaan. Contoh:
Tidak ada satu pun kitab Ushul Fiqh maupun kitab Fiqh memuat kaedah seperti ini. Kaedah ini hanya buatan sebagian orang saja.
Untuk menguji kekuatan kaedah ini, mari kita lihat beberapa contoh dari hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan suatu perbuatan, namun tidak selamanya karena perbuatan itu haram, tapi karena beberapa sebab:
Pertama, karena kebiasaan. Contoh:
عَنْ خَالِدِ بْنِ ا لوَلِيدِ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَ بٍ مَشْوِ ي فَأهَْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأمَْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَال أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأرَْضِ قَوْمِي فَأجَِدُنِي أَعَافُهُ فَأكََلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ
Dari Khalid bin al-Walid, ia berkata, “Rasulullah Saw diberi Dhab (biawak Arab) yang dipanggang untuk dimakan. Lalu dikatakan kepada Rasulullah Saw, “Ini adalah Dhab”. Rasulullah Saw menahan tangannya.
Khalid bertanya, “Apakah Dhab haram?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Tidak, tapi karena Dhab tidak ada di negeri kaumku. Maka aku merasa tidak suka”. Khalid memakan Dhab itu, sedangkan Rasulullah Saw melihatnya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Apakah karena Rasulullah Saw tidak memakannya maka Dhab menjadi haram!? Dhab tidak haram. Rasulullah Saw tidak memakannya karena makan Dhab bukan kebiasaan di negeri tempat tinggal Rasulullah Saw.
Kedua, khawatir akan memberatkan ummatnya. Contoh:
Khalid bertanya, “Apakah Dhab haram?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Tidak, tapi karena Dhab tidak ada di negeri kaumku. Maka aku merasa tidak suka”. Khalid memakan Dhab itu, sedangkan Rasulullah Saw melihatnya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Apakah karena Rasulullah Saw tidak memakannya maka Dhab menjadi haram!? Dhab tidak haram. Rasulullah Saw tidak memakannya karena makan Dhab bukan kebiasaan di negeri tempat tinggal Rasulullah Saw.
Kedua, khawatir akan memberatkan ummatnya. Contoh:
عَنْ عَائِشَة أَنَّ رَسُولَ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثمَُّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثرَُ النَّاس ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثاَّلِثَةِ أَوْ الرَّابِع ةِ فَلَمْ يَخْرُ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أصَْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِ ي صَنَعْتمُْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُو إِلَيْكُمْ إِلَّا أنَ ي خَشِيتُ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Saw shalat di Masjid pada suatu malam, lalu orang banyak ikut shalat bersama beliau. Pada malam berikutnya orang banyak mengikuti beliau. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat, Rasulullah Saw tidak keluar rumah. Pada waktu paginya, Rasulullah Saw berkata, “Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang mencegahku untuk keluar rumah menemui kalian, hanya saja aku khawatir ia diwajibkan bagi kalian”. Itu terjadi di bulan Ramadhan. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Swt tidak ke masjid setiap malam, apakah perbuatan ke masjid setiap malam itu haram?! Tentu saja tidak haram.
Mengapa Rasulullah Saw tidak melakukannya?!
Bukan karena perbuatan itu haram, tapi karena khawatir memberatkan ummat Islam.
Contoh lain:
Rasulullah Swt tidak ke masjid setiap malam, apakah perbuatan ke masjid setiap malam itu haram?! Tentu saja tidak haram.
Mengapa Rasulullah Saw tidak melakukannya?!
Bukan karena perbuatan itu haram, tapi karena khawatir memberatkan ummat Islam.
Contoh lain:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِال سوَاكِ مَاَ كُ ل صَلَاةٍ
“Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku, atau bagi manusia, pastilah aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali shalat”. (HR. al-Bukhari).
Ketiga, tidak terlintas di fikiran Rasulullah Saw. Contoh:
Ketiga, tidak terlintas di fikiran Rasulullah Saw. Contoh:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللََّّ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللََِّّ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئ تِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ
Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, sudikah aku buatkan untuk engkau sesuatu? engkau duduk di atasnya. Sesungguhnya aku mempunyai seorang hamba sahaya tukang kayu”.
Rasulullah Saw menjawab, “Jika engkau mau”.
Perempuan itu membuatkan mimbar. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw tidak membuat mimbar, bukan berarti mimbar itu haram. Tapi karena tidak terlintas untuk membuat mimbar, sampai perempuan itu menawarkan mimbar. Lalu apakah karena Rasulullah Saw tidak membuatnya, maka mimbar menjadi haram?! Tentu saja tidak.
Rasulullah Saw menjawab, “Jika engkau mau”.
Perempuan itu membuatkan mimbar. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw tidak membuat mimbar, bukan berarti mimbar itu haram. Tapi karena tidak terlintas untuk membuat mimbar, sampai perempuan itu menawarkan mimbar. Lalu apakah karena Rasulullah Saw tidak membuatnya, maka mimbar menjadi haram?! Tentu saja tidak.
قَالَ عَبْدُ اللََّّ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللََِّّ أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا فَثَن ى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ إِن هُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأتْكُُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أنََا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أنَْسَى كَمَا تنَْسَوْنَ فَإِذ ا نَسِيتُ فَذَ كرُونِي
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah Saw melaksanakan shalat. Ibrahim berkata, ‘Saya tidak mengetahui apakah rakaat berlebih atau kurang. Ketika shalat telah selesai. Dikatakan kepada Rasulullah, “Apakah telah terjadi sesuatu dalam shalat?”.
Rasulullah Saw kembali bertanya, “Apakah itu?”.
Mereka menjawab, “Engkau telah melakukan anu dan anu”.
Kemudian Rasulullah Saw menekuk kedua kakinya dan kembali menghadap kiblat, beliau sujud dua kali. Kemudian salam. Ketika Rasulullah Saw menghadapkan wajahnya kepada kami, ia berkata, “Jika terjadi sesuatu dalam shalat, pastilah aku beritahukan kepada kamu. Tapi aku hanyalah manusia biasa, sama seperti kamu. Aku juga lupa, sama seperti kamu. Jika aku terlupa, maka ingatkanlah aku”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw tidak melakukan, bukan karena haram. Tapi karena beliau lupa.
Kelima, karena khawatir orang Arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw. Contoh:
Rasulullah Saw kembali bertanya, “Apakah itu?”.
Mereka menjawab, “Engkau telah melakukan anu dan anu”.
Kemudian Rasulullah Saw menekuk kedua kakinya dan kembali menghadap kiblat, beliau sujud dua kali. Kemudian salam. Ketika Rasulullah Saw menghadapkan wajahnya kepada kami, ia berkata, “Jika terjadi sesuatu dalam shalat, pastilah aku beritahukan kepada kamu. Tapi aku hanyalah manusia biasa, sama seperti kamu. Aku juga lupa, sama seperti kamu. Jika aku terlupa, maka ingatkanlah aku”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw tidak melakukan, bukan karena haram. Tapi karena beliau lupa.
Kelima, karena khawatir orang Arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw. Contoh:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللََّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْت فَهُدِمَ فَأدَْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِ مِنْهُ وَألَْزَقْتُهُ بِالْأرَْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَاب ا غَرْب يًّا فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيم
Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa jahiliyah, pastilah aku perintahkan merenofasi Ka’bah. Aku akan masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya. Aku akan menempelkannya ke tanah. Aku buat dua pintu, satu di timur dan satu di barat, dengan itu aku sampaikan dasar Ibrahim”. (HR. al-Bukhari).
Rasululllah Saw tidak melakukan renofasi itu, bukan berarti haram. Tapi karena tidak ingin orang-orang Arab berbalik arah, tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw, karena mereka baru saja masuk Islam, hati mereka masih terikat dengan masa jahiliyah.
Keenam, karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum,
Rasululllah Saw tidak melakukan renofasi itu, bukan berarti haram. Tapi karena tidak ingin orang-orang Arab berbalik arah, tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw, karena mereka baru saja masuk Islam, hati mereka masih terikat dengan masa jahiliyah.
Keenam, karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum,
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تعُْلِحُونَ
“Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. (Qs. al-Hajj [22]: 77).
Rasulullah Saw tidak melakukannya, bukan berarti haram. Tapi masuk dalam kategori kebaikan yang bersifat umum. Jika perbuatan itu sesuai Sunnah, maka bid’ah hasanah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka bid’ah dhalalah.
Rasulullah Saw tidak melakukannya, bukan berarti haram. Tapi masuk dalam kategori kebaikan yang bersifat umum. Jika perbuatan itu sesuai Sunnah, maka bid’ah hasanah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka bid’ah dhalalah.
“Jika Tidak Dilakukan Rasulullah Saw, Maka Haram”. Adakah Kaedah Ini?
Inilah yang dijadikan kaedah membuat orang mengharamkan yang tidak haram. Membid’ahkan yang tidak bid’ah.
Adakah kaedah seperti ini dalam Ilmu Ushul Fiqh?
Pertama, kaedah haram ada tiga:
a. Nahy (larangan/kalimat langsung), contoh: [وَلَا تَقْرَبُوا ال زنَا ] “Dan janganlah kamu mendekati zina”. (Qs. al-Isra’ [17]: 32).
b. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contoh: [وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ] “dan janganlah menggunjingkan satu sama lain”. (Qs. al-Hujurat [49]: 12).
c. Wa’id (ancaman keras), contoh: [وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ] “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah bagian dari golongan kami”. (HR. Muslim).
Sedangkan at-Tark (perbuatan yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), tidak satu pun ahli Ushul Fiqh menggolongkannya ke dalam kaedah haram.
Kedua, yang diperintahkan Rasulullah Saw, lakukanlah. Yang dilarang Rasulullah Saw, tinggalkanlah. Ini berdasarkan ayat, [ وَمَا آتَاَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْه فَانْتَهُوا ]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Qs. al-Hasyr [59]: 7).
Tidak ada kaedah tambahan, “Yang ditinggalkan Rasulullah Saw, maka haram”.
Ketiga, “Yang aku perintahkan, laksanakanlah. Yang aku larang, tinggalkanlah”.
Ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah, [ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَيْتكُُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ].
Tidak ada kalimat tambahan, “Yang tidak aku lakukan, haramkanlah!”.
Keempat, ulama Ushul Fiqh mendefinisikan Sunnah adalah:
Inilah yang dijadikan kaedah membuat orang mengharamkan yang tidak haram. Membid’ahkan yang tidak bid’ah.
Adakah kaedah seperti ini dalam Ilmu Ushul Fiqh?
Pertama, kaedah haram ada tiga:
a. Nahy (larangan/kalimat langsung), contoh: [وَلَا تَقْرَبُوا ال زنَا ] “Dan janganlah kamu mendekati zina”. (Qs. al-Isra’ [17]: 32).
b. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contoh: [وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ] “dan janganlah menggunjingkan satu sama lain”. (Qs. al-Hujurat [49]: 12).
c. Wa’id (ancaman keras), contoh: [وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ] “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah bagian dari golongan kami”. (HR. Muslim).
Sedangkan at-Tark (perbuatan yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), tidak satu pun ahli Ushul Fiqh menggolongkannya ke dalam kaedah haram.
Kedua, yang diperintahkan Rasulullah Saw, lakukanlah. Yang dilarang Rasulullah Saw, tinggalkanlah. Ini berdasarkan ayat, [ وَمَا آتَاَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْه فَانْتَهُوا ]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Qs. al-Hasyr [59]: 7).
Tidak ada kaedah tambahan, “Yang ditinggalkan Rasulullah Saw, maka haram”.
Ketiga, “Yang aku perintahkan, laksanakanlah. Yang aku larang, tinggalkanlah”.
Ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah, [ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَيْتكُُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ].
Tidak ada kalimat tambahan, “Yang tidak aku lakukan, haramkanlah!”.
Keempat, ulama Ushul Fiqh mendefinisikan Sunnah adalah:
السنة عند الأصوليين ما صدر عن النبي صلى الله عليه وسلم غير القرآن من قول أو فعل أو تقرير ، مما يصلح أن يكون دليلاً على حكم شرعي .
Sunnah menurut para ahli Ushul Fiqh adalah: ucapan, perbuatan dan ketetapan yang berasal dari Rasulullah Saw, layak dijadikan sebagai dalil hukum syar’i.
Hanya ada tiga: Qaul (Ucapan), fi’l (Perbuatan) dan Taqrir (Ketetapan).
Tidak ada disebutkan at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw). Maka at-Tark tidak termasuk dalil penetapan hukum syar’i.
Kelima, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw)
tidak selamanya mengandung makna larangan, tapi mengandung multi makna.
Dalam kaedah Ushul Fiqh dinyatakan: [أن ما دخله الإحتمال سقط به الاستدلال ]
Jika dalil itu mengandung ihtimal (banyak kemungkinan/ketidakpastian), maka tidak layak dijadikan sebagai dalil.
Keenam, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), itu adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatan pun. Sedangkan perbuatan itu datang belakangan. Maka at-Tark tidak dapat disebut bisa menetapkan hukum haram. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah (boleh) yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. Jika dikatakan bahwa semua yang tidak dilakukan Rasulullah Saw itu mengandung hukum haram, maka terhentilah kehidupan kaum muslimin.
Jalan keluarnya, Rasulullah Saw bersabda,
Hanya ada tiga: Qaul (Ucapan), fi’l (Perbuatan) dan Taqrir (Ketetapan).
Tidak ada disebutkan at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw). Maka at-Tark tidak termasuk dalil penetapan hukum syar’i.
Kelima, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw)
tidak selamanya mengandung makna larangan, tapi mengandung multi makna.
Dalam kaedah Ushul Fiqh dinyatakan: [أن ما دخله الإحتمال سقط به الاستدلال ]
Jika dalil itu mengandung ihtimal (banyak kemungkinan/ketidakpastian), maka tidak layak dijadikan sebagai dalil.
Keenam, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), itu adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatan pun. Sedangkan perbuatan itu datang belakangan. Maka at-Tark tidak dapat disebut bisa menetapkan hukum haram. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah (boleh) yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. Jika dikatakan bahwa semua yang tidak dilakukan Rasulullah Saw itu mengandung hukum haram, maka terhentilah kehidupan kaum muslimin.
Jalan keluarnya, Rasulullah Saw bersabda,
ما أحل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو ععو فاقبلوا من الله عافيته فان الله لم يكن ينسى شيئا ثم تلا هذه الآية وما كان ربك نسيا
“Apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, maka itu halal. Apa yang Ia haramkan, maka itu haram. Apa yang didiamkan (tidak disebutkan), maka itu adalah kebaikan Allah. Maka terimalah kebaikan-Nya. Sesungguhnya Allah tidak pernah lupa terhadap sesuatu”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, “dan tidaklah Tuhanmu lupa.”. (Qs. Maryam [19]: 64).69
Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani terhadap hadits ini,
Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani terhadap hadits ini,
أخرجه البزار وقال سنده صالح وصححه الحاكم
Disebutkan oleh Imam al-Bazzar dalam kitabnya, ia berkata, “Sanadnya shalih”. Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim
Ini menunjukkan bahwa yang tidak disebutkan Allah Swt dan tidak dilakukan Rasulullah Saw bukan berarti mengandung makna haram, tapi mengandung makna boleh, hingga ada dalil lain yang mengharamkannya. Dengan demikian, maka batallah kaedah:
الترك يقتضي التحريم
“at-Tark: perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw, berarti mengandung makna haram”.
Baca dan fikirkan baik-baik!
Oleh sebab itu banyak sekali perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, tapi dilakukan shahabat, dan Rasulullah Saw tidak melarangnya, bahkan memujinya. Berikut contoh-contohnya:
Rasulullah Saw Membenarkan Perbuatan Shahabat,
Padahal Rasulullah Saw Tidak Pernah Melakukannya.
Ada beberapa perbuatan yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw, tidak pernah beliau ucapkan dan tidak pernah beliau ajarkan. Tapi dilakukan oleh shahabat, Rasulullah Saw membenarkannya. Diantaranya adalah:
Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu’.
Baca dan fikirkan baik-baik!
Oleh sebab itu banyak sekali perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, tapi dilakukan shahabat, dan Rasulullah Saw tidak melarangnya, bahkan memujinya. Berikut contoh-contohnya:
Rasulullah Saw Membenarkan Perbuatan Shahabat,
Padahal Rasulullah Saw Tidak Pernah Melakukannya.
Ada beberapa perbuatan yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw, tidak pernah beliau ucapkan dan tidak pernah beliau ajarkan. Tapi dilakukan oleh shahabat, Rasulullah Saw membenarkannya. Diantaranya adalah:
Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu’.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْعَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِ ثْنِي بِأرَْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِيالْإِ سْلَامِ فَإِن ي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أرَْجَى عِنْدِي أَن ي لَمْ أَتطََهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍإِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أصَُلِ يَ
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Bilal pada shalat Shubuh, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang amal yang paling engkau harapkan yang telah engkau amalkan dalam Islam? Karena aku mendengar suara gesekan sandalmu di depanku di dalam surga”.
Bilal menjawab, “Aku tidak pernah melakukan amal yang paling aku harapkan, hanya saja aku tidak pernah bersuci (wudhu’) dalam satu saat di waktu malam atau siang, melainkan aku shalat dengan itu (shalat sunnat Wudhu’), shalat yang telah ditetapkan bagiku”. (HR. al-Bukhari).
Bilal menjawab, “Aku tidak pernah melakukan amal yang paling aku harapkan, hanya saja aku tidak pernah bersuci (wudhu’) dalam satu saat di waktu malam atau siang, melainkan aku shalat dengan itu (shalat sunnat Wudhu’), shalat yang telah ditetapkan bagiku”. (HR. al-Bukhari).
No comments:
Post a Comment